Bukan Salah Anak : Selamatkan Anak Kita Dari Sinetron Sebelum Terlambat!!!

Dampak Televisi Terhadap Anak Mampu Membentuk Karakteristik Anak.

Dahulu, sering kita lihat anak-anak kecil bermain, mulai dari kelereng sampai Bal-balan hingga sore hari. Ketika menjelang sore, anak-anak kecil pulang ke rumah bergegas untuk pergi ke musholla atau masjid, serta belajar mengaji. Belajar tatakrama dan belajar menjadi anak yang membanggakan orangtuanya. Sekarang, sudah jarang kita dapati anak-anak seperti itu. Mereka mulai enggan untuk belajar dan mengaji di musholla dikampungnya.

Beberapa tahun lalau, indonesia tidak terlalu kenal dengan yang namanya 'televisi'. Entah karena mereka tidak memiliki uang, tidak ada listrik atau memang menyadari dampak yang dibawanya.

Di era keterbukaan ruang informasi seperti sekarang ini, televisi sudah menjamur di rumah-rumah penduduk. Seolah televisi bukanlah barang mahal lagi, terkadang, bisa kita jumpai di satu rumah terdapat dua atau tiga televisi. Televisi kini bermacam fungsinya, baik unutk kebutuhan informasi, even berkumpul dengan keluarga atau sekedar pelepas penat.

Namun demikian, tidak semua kalangan dapat memilah dan memilih informasi dari televisi. Sikap acuh tak acuh pada tayangan televisi inilah yang di khawatirkan tak peduli pada dampak buruk terkait televisi. Hal ini berpotensi mengurangi kualitas sumber daya manusia pada masa yang akan datang, sebab kebanyakan dari mereka masih didominasi oleh anak-anak muda yang belia.

Memang benar jika televisi hanyalah sebuah media untuk menuai informasi atau tontonan yang menghibur. Akan tetapi, jiwa labil anak-anak muda akan cenderung menganggapnya sebagai tuntunan untuk kemudian melakukannya di dunia nyata. Ditambah, tontonan zaman sekarang orientasinya hiburan, bukan lagi informasi, apalagi pendidikan. Otomatis, tontonan yang segmentasinya anak muda akan menggambaran anak dengan segala huru-hurunya.

Termasuk produk andalan televisi adalah sinema elekrtonik. Acara yang sering disingkat sinetron ini adalah film yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronik seperti Televisi. Biasanya acara ini ditayangkan setiap hari. Pangsa pasarnya meliputi anggota keluarga terutama ibu-ibu dan remaja. Awal mula acara ini hanya menayangkan hiburan. Namun, lambat laun persaingan antar stasiun televisi mulai membuak acara ini mulai kebablasan.

Inilah Beberapa Diantaranya Efek Negatif dari Persaingan Antar Stasiun Televisi :

Waktu Penayangan Tidak Sesuai

Waktu penayangan yang diawali dari jam enak sampai jam sepuluh malan adalah waktu teraik unutk belajar dan membaca. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendengarkan nasihat orang tuanya justru si kecil gunakan unutk menonton televisi. Maka jangan heran jika anak zaman sekarang cenderung Mokong kalau dinasehati orang tua, karena kini nasehat orang tua telah tergantikan dengan nasihat sinetron.

Sudah Mengesampingkan Krama

 Tontonan yang disuguhkan, terutama sinetron malam, sangat jauh dari positif dan keluhuran tata krama, cenderung hedonsime dan kebarat-baratan. Peran utamanya adalah orang cantk atau tampan, kebiasaannya pergi ke klub malam, melawan orang tua, pacaran, dan lain semacamnya. Selanjutnya, penonton dibawa untuk menyaksikan kedengkian dan segala bentuk kejahatant tokoh antagonisnya.


Anak Kita Adalah Peniru Terbaik

Anak-anak muda yang belum mempunyai jati diri akan cenderung menirukan segala hal yang ia tonton, baik itu prontagonis (Tokoh Utama) maupun antagonis (Musuh Tokoh Utama). Secara tidak sadar karakter anak-anak muda akan meniru idolanya: kalau perlu menghajar orang pun meraka akan mengikutinya.

Jika demikian, otomatis anak muda yang minus ilmu, minus tatakrama, minus teladan serta minus nasihat dari orangtuanya akan menjadi penghalang besar bagi kemajuan bangsa. Sebab, satu-satunya masa depa yang bisa diharapkan adalah anak muda.

Sudah saatnya kita menyadari dampak negatif televisi, kemudian menjauhkan anak-anak dari televisi atau paling tidak mengurangi serta mengawasi tontonan mereka. Minila setelah Maghrib, kemajuan bangsa ini tergantung anak mudanya, tergantung pendidikan orang tuanya.

Sumber


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

:)
:(
=(
^_^
:D
=D
=)D
|o|
@@,
;)
:-bd
:-d
:p
:ng